Search Now!
Contact Info
Location Jl. Berlian No.1, Jatinegara, Jakarta Timur 13330, Indonesia
Follow Us
Contact Info
Location Jl. Berlian No.1, Jatinegara, Jakarta Timur 13330, Indonesia
Follow Us

Menikmati Alam di Tengah Luka Bumi

Images

Menikmati Alam di Tengah Luka Bumi

Authored by
Direktorat Media NUO
Date Released
06 Feb 2026
Views
1

Awal tahun 2026 kembali mengingatkan kita betapa rapuhnya bumi yang kita tinggali. Banjir melanda berbagai daerah, tambang ilegal kian meluas, dan kehidupan banyak saudara kita berubah muram. 

Bahkan perayaan suci seperti Natal dilalui dengan air mata bukan karena kehilangan harapan, melainkan sebagai ikhtiar untuk tetap bertahan di tengah luka yang menganga.

Pertanyaannya kemudian muncul: siapa yang memulai semua kerusakan ini?

Ego Manusia, Akar dari Luka Bumi

Sejak dahulu manusia diberi ego sebagai naluri bertahan hidup. Namun, ketika ego kita pakai untuk menguasai, bukan menjaga, alam pun menjadi korban. 

Data citra satelit periode 2016–2025 menunjukkan pembukaan lahan besar-besaran di Sumatra. Riset Global Change Biology mencatat lebih dari 6 juta hektare hutan primer hilang pada 2000–2012.[1] 

Saat kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan bumi, degradasi lingkungan menjadi keniscayaan, mimpi buruk yang perlahan menjelma nyata.

Bukan Sekadar Polusi Udara

Selama ini, kita hanya sedikit mengetahui kerusakan lingkungan dari maraknya banjir dan udara yang kita hirup. Ada ancaman yang lebih besar: degradasi ekologi skala nasional.

Faktanya, 1,93 juta hektare hutan hilang pada 2021-2023 yang menyebabkan banjir dan tanah longsor, 16,2 juta ton sampah mencemari laut Indonesia setiap tahun, dan 47 ribu lebih satwa terancam punah menunjukkan krisis keanekaragaman hayati.[2]

Kerusakan ini tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga menipiskan “jiwa” bumi yang selama ini menopang kehidupan. Di sinilah kita membutuhkan pendekatan yang lebih dalam yaitu ekoteologi.

Ekoteologi: Jalan Pulang untuk Menjaga Bumi

Ekoteologi adalah pemahaman bahwa merawat alam bukan sekadar tugas ekologis, melainkan tanggung jawab spiritual manusia sebagai khalifah di bumi. Di Indonesia, pendekatan ini diperkaya oleh Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA sebagai panduan moderasi beragama yang memasukkan cinta lingkungan sebagai prinsip moral.

“Bumi ini adalah rumah bersama. Setiap pohon, air, dan hewan memiliki hak untuk hidup. Agama harus menjadi energi spiritual yang menumbuhkan cinta kepada seluruh ciptaan.”

Ekoteologi bukan hanya konsep, melainkan pemantik kesadaran hidup—mengajak manusia menjaga alam dengan iman, etika, dan tanggung jawab.

Perubahan selalu dapat dimulai dari langkah kecil. Mari menumbuhkan kepedulian, merawat kesadaran, dan menyebarkan nilai ini agar semakin banyak yang tergerak menjaga rumah kita bersama.

_______

Sumber:

[1]  Hapsari, K. A., Jennerjahn, T., Nugroho, S. H., Yulianto, E., & Behling, H. (2022). Sea level rise and climate change acting as interactive stressors on development and dynamics of tropical peatlands in coastal Sumatra and South Borneo since the Last Glacial Maximum. Global Change Biology, 28(10), 3459–3479. https://doi.org/10.1111/gcb.16131 
[2] Forest Watch Indonesia, 2025
[2] Nurhaliza, Siti. (2025, 10 November). Satwa Langka Indonesia Terancam Punah, Apa yang Bisa Kita Lakukan?. Anwar Muhammad Foundation.

Tags:
  • Share: