Catcalling Kian Dinormalisasi, Kenapa Masih Banyak Terjadi?
Catcalling Kian Dinormalisasi, Kenapa Masih Banyak Terjadi?
Direktorat Media NUO
04 Dec 2025
2
Fenomena catcalling semakin marak terjadi. Meski dilakukan secara verbal, tindakan ini dapat menimbulkan goncangan psikologis yang serius. Mulai dari merasa kurang nyaman, menurunnya kepercayaan diri, sampai berujung trauma berat. Mirisnya, sebagian pelaku catcalling justru menganggap tindakan ini adalah bentuk candaan biasa.
Kalimat-kalimat yang kerap muncul dari pelaku catcalling antara lain siulan, komentar bernada seksis yang menilai fisik seseorang, hingga beberapa panggilan seperti di bawah ini yang membuat korban merasa tersudutkan.
“Kiw, kiw, cantik, mau ke mana, nih?”
“Jutek amat, senyum, dong!”
“Kakaknya 08 berapa, nih, kenalan, yuk, bareng abang…”
Normalisasi inilah yang membuat pelaku catcalling semakin berani. Mereka seolah menjadikan catcalling adalah hal yang tak asing. Karena budaya lingkungan sekitar sudah terlanjur membiarkan, menertawakan, bahkan membela sang pelaku, perilaku catcalling ini kian merajalela.
Kondisi ini tentu menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi perempuan yang semakin rentan terhadap pelecehan seksual. Lantas, bagaimana langkah bijak dalam mengatasi fenomena catcalling di kehidupan sosial? Mari kita kulik bersama jawabannya melalui artikel ini!
APA ITU CATCALLING?
Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu memahami bawah istilah catcalling tidak ada kaitannya dengan penyebutan hewan tertentu. Mengutip kamus Oxford, catcalling diterjemahkan sebagai siulan, panggilan, dan komentar bernada seksual.
Pada prakteknya, catcalling adalah tindakan yang menimbulkan rasa tidak nyaman dan rasa was-was sebagai akibat dari bentuk pelecehan di jalan yang seringkali dialami oleh perempuan. Pelaku biasanya mengincar korban yang tengah jalan sendirian dan menilai berdasarkan penampilan fisik.
Fenomena ini tidak tumbuh begitu saja. Catcalling lahir dari berbagai faktor sosial dan budaya yang membuat perilaku ini dianggap wajar. Untuk itu, memahami akar persoalan catcalling menjadi langkah penting sebelum kita mencari solusi.
Penelitian menunjukkan bahwa catcalling berawal dari sistem sosial yang sering menempatkan laki-laki sebagai pihak yang lebih dominan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, ketimpangan tersebut menempatkan perempuan sebagai objek yang rentan mengalami tindakan yang merendahkan martabat mereka.
BAGAIMANA MENCEGAH CATCALLING?
Lantas, bagaimana mencegah catcalling? Berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan:
- Tetap tenang. Jika situasi memungkinkan, ucapkan secara lantang pesan berikut ini, “Stop! Jangan ganggu saya,” atau “Maaf, ya, itu nggak sopan.”;
- Usahakan tidak bepergian sendirian atau segera mencari bantuan warga sekitar bila situasi semakin tidak kondusif;
- Pasang wajah datar ke pelaku untuk menandai bahwa kita memiliki martabat yang kuat;
- Segera catat kejadian, lalu laporkan ke pihak berwenang saat situasi semakin mengancam keselamatan;
Dalam pandangan agama, catcalling merupakan tindakan yang intoleran dan tidak bermoral karena mengganggu, merendahkan martabat, dan melukai rasa aman seseorang. Semua agama sepakat menolak perilaku yang mengarah objektifikasi fisik seseorang dan menyakiti mereka secara fisik maupun verbal.
Sebab ini bertentangan dengan nilai moderasi beragama yang telah lama terjalin di masyarakat Indonesia seperti kesopanan, penghormatan, dan bagaimana kita bisa mengendali diri dari situasi yang mengancam keamanan kehidupan umat di kehidupan sosial.
Di samping itu, pelaku catcalling dapat terjerumus dalam hukuman pidana. Terdapat Undang Undang (UU) Tindak Pidana Kejahatan Seksual (TPKS) yang berbunyi bahwa berguyon seksis (catcalling) verbal maupun nonverbal dapat dikategorikan sebagai pelecehan seksual nonfisik (Pasal 5) dan/atau fisik (Pasal 6). Korban dapat langsung memproses pelaku catcalling sebagai ancaman pidana.
Catcalling bukanlah candaan, namun inilah bentuk perilaku nyata yang dapat meninggalkan luka mendalam bagi korban. Sosialisasi pencegahan catcalling dan kesadaran sosial dapat menciptakan ruang publik yang aman dan nyaman bagi siapapun, khususnya kaum perempuan.
Mari stop catcalling mulai dari diri kita!