Begini Islam Memandang Diskriminasi Terhadap Perempuan
Begini Islam Memandang Diskriminasi Terhadap Perempuan
Direktorat Media NUO
09 Dec 2025
7
Diskriminasi terhadap perempuan bukanlah persoalan remeh. Di banyak ruang kehidupan, batasan-batasan yang menghalangi gerak perempuan masih dianggap hal yang “biasa” dan melekat pada tradisi.
Peran perempuan seolah dipersempit dengan adanya anggapan bahwa mereka hanya fokus mengurus rumah tangga, seolah ini adalah satu-satunya jalan yang bisa mereka tempuh.
Padahal, Islam menempatkan laki-laki dan perempuan secara setara sebagai manusia yang bermartabat. Sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, Islam menghadirkan keadilan dan perlindungan tanpa membedakan jenis kelamin.
Namun, realitanya masih jauh dari ideal. Banyak perempuan yang mengalami diskriminasi, khususnya dalam memperoleh askes pendidikan. Stereotipe yang kerap kita dengar juga masih sama:
“Perempuan sekolah tinggi buat apa?”
“Tugas ibu itu fokus di dapur aja!”
“Nanti kalau kuliah lagi, yang ngurus anak-anak, siapa?”
Pertanyaan pentingnya, dari mana lahirnya diskriminasi perempuan ini, dan apa yang bisa kita lakukan untuk melawannya? Mari kita bahas lebih lanjut di artikel ini!
Awal Mula Diskriminasi Terhadap Perempuan
Jika kita berbicara soal diskriminasi, maka erat kaitannya dengan budaya patriarki. Budaya ini lahir dan berakar pada sistem sosial kuno yang menempatkan pihak laki-laki sebagai pusat kekuasaan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Jilid VI Daring bahwa patriarki merupakan perilaku mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu.
Dampaknya terlihat sangat jelas:
- Peran gender dibuat kaku seolah laki-laki mencari nafkah, perempuan mengurus rumah.
- Perempuan didorong untuk tidak melanjutkan pendidikan, bahkan dari kesadaran orang tua sendiri.
- Ruang gerak perempuan dibatasi dan tindak kekerasan ada di mana saja.
Semua ini menyebabkan ketimpangan dan menghambat perempuan mengakses ruang publik secara setara.
Aksi Nyata Memberikan Ruang Aman Bagi Perempuan
Islam memandang perempuan dan laki-laki sebagai ciptaan yang sama-sama mulia, sesuai dengan peran dan kodratnya tanpa menempatkan salah satunya lebih rendah.
Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Ayat ini menjadi dasar bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh gender, melainkan ketakwaan dan amal.
Berikut adalah beberapa langkah yang bisa kita gaungan untuk memberikan ruang aman bagi perempuan di lingkungan sehari-hari:
1. Menolak Diskriminasi Gender
Contoh sederhananya seperti tidak membedakan peran laki-laki dan perempuan. Semuanya memiliki hak yang sama dalam beraktivitas di lingkungan sosial.
2. Memanfaatkan Layanan Perlindungan
Indonesia memiliki lembaga independen bernama Komnas Perempuan yang hadir untuk memberikan edukasi, advokasi, dan pendampingan bagi korban kekerasan berbasis gender.
3. Membangun Lingkungan Aman di Institusi
Data dari Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan mencatat angka kekerasan terhadap perempuan di tahun 2024 lebih tinggi 14,17% dibanding tahun 2023. Untuk itu, perlu ada program-program yang digagas oleh kampus untuk menciptakan ekosistem belajar yang aman bagi perempuan.
4. Mendorong Narasi Positif di Ruang Digital
Media digital dan media sosial dapat menjadi ruang terjadinya perubahan positif. Menyebarkan narasi yang sehat, melawan stereotip, dan memperluas kesadaran publik terhadap isu kekerasan berbasis gender.
Diskriminasi bukan hanya soal pembatasan, namun berakar dari budaya patriarki yang masih mempengaruhi banyak aspek kehidupan manusia. Berawal dari langkah-langkah kecil yang konsisten, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih adil, inklusif, dan menghargai setiap perempuan sebagaimana mestinya.